Cari Blog Ini

Memuat...

Sabtu, 21 Agustus 2010

pembelajaran qawa'id

Berbicara tentang pengajaran bahasa, baik bahasa pertama (B1) maupun bahasa kedua (B2) atau bahasa asing, maka ada dua grand teori yang menjadi landasan teoritis dalam pengembangan pengajaran bahasa, yaitu teori ilmu jiwa (psikologi) dan ilmu bahasa (linguistic). Psikologi menguraikan bagaimana orang belajar sesuatu, linguistic memberikan informasi tentang seluk beluk bahasa. Informasi dari keduanya diramu menjadi suatu cara atau metode yang memudahkan proses belajar-mengajar bahasa untuk mencapai tujuan tertentu.

A. Teori Ilmu Jiwa (Psychology)
Para pakar psikologi pembelajaran sepakat bahwa dalam proses belajar-mengajar terdapat unsur-unsur (1) internal, yaitu bakat, minat, kemauan dan pengalaman terdahulu dalam diri pembelajar; dan (2) eksternal, yaitu lingkungan, guru, buku teks, dsb. Permasalahannya adalah unsur manakah yang merupakan factor dominan atau paling besar pengaruhnya dalam proses pembelajaran? Jawaban atas pertanyaan ini dapat ditelusuri melalui dua mazhab besar dalam psikologi, yaitu mazhab behaviorisme (al-sulukiyah) dan mazhab cognitive (al-ma’rifiyah). Mazhab pertama memberikan perhatian lebih besar kepada factor-faktor eksternal, sedangkan mazhab kedua lebih memfokuskan perhatiannya kepada factor internal.

1. Mazhab Behaviorisme
Mazhab behaviorisme menjelaskan pengertian tingkah laku melalui aksi dan reaksi atau stimulus menghasilkan response; stimulus yang berbeda menghasilkan responsi yang berbeda pula. Hubungan antara stimulus tertentu dengan responsi tertentu disebut kebiasaan atau habit. Yang menjadi masalah pokok adalah “bagaimana terjadinya hubungan antara stimulus dan responsi (S-R)?” Menurut aliran psikologi behaviorisme klasik, yang dipelopori oleh Watson, stimulus mendatangkan responsi. Apabila stimulus terjadi secara tetap maka responsi pun terlatih dan diarahkan tetap sehingga akhirnya bersifat otomatis. Aliran psikologi behaviorisme modern, dengan tokoh Skinner, berpendapat bahwa kebiasaan dapat terjadi dengan cara peniruan dan penguatan.

Kebiasaan mempunyai dua karakteristik utama. Pertama, kebiasaan itu dapat diamati atau observable, bila berupa benda dapat diraba, dan bila berupa kegiatan atau aktivitas dapat dilihat. Kedua, kebiasaan itu bersifat mekanistis atau otomatis. Kebiasaan itu terjadi secara spontan tanpa disadari dan sangat sukar dihilangkan terkecuali kalau lingkungan berubah. Perubahan itu mengarah kepada penghilangan stimulus yang membangkitkannya.
Walaupun teori pembentukan kebiasaan (habit formation) itu bersifat umum, aplikasinya digunakan juga dalam pengajaran bahasa. Di dalam pengajaran bahasa pertama (B1), anak-anak menguasai bahasa ibunya melalui peniruan. Peniruan itu biasanya diikuti oleh pujian atau perbaikan. Melalui kegiatan itulah anak-anak mengembangkan pengetahuannya mengenai struktur, pola kebiasaan bahasa ibunya. Hal yang sama berlaku juga dalam pengajaran bahasa kedua (B2) atau bahasa asing. Melalui cara peniruan dan penguatan, para siswa mengidentifikasi hubungan antara stimulus dan responsi yang merupakan kebiasaan dalam berbahasa kedua atau bahasa asing.
Dalam pengajaran bahasa, aliran/mazhab behaviorisme ini melahirkan pendekatan aural-oral (thariqah sam’iyah syafawiyah). Dalam pendekatan ini, peran guru sangat dominant karena dialah yang memilih bentuk stimulus, memberikan ganjaran dan hukuman, memberikan penguatan dan menentukan jenisnya, dan dia pulalah yang memilih buku, materi, dan cara mengajarkannya, bahkan menentukan bentuk jawaban atas pertanyaan yang diajukan kepada pembelajar. Pendekatan ini memberikan perhatian utama kepada kegiatan latihan, drill, menghafal kosa kata, dialog, teks bacaan, dan pada sisi lain lebih mengutamakan bentuk luar bahasa (pola, struktur, kaidah) dari pada kandungan isinya, dan mengutamakan kesahihan dan akurasi dari pada kemampuan interaksi dan komunikasi.

2. Mazhab Kognitive
Bertolak belakang dengan mazhab behaviorisme yang menekankan pentingnya stimulus eksternal dalam pembelajaran, mazhab cognitive menegaskan pentingnya keaktifan pembelajar. Pembelajarlah yang mengatur dan menentukan proses pembelajaran. Lingkungan bukanlah penentu awal dan akhir positif atau negatifnya hasil pembelajaran. Menurut pandangan mazhab ini, seseorang ketika menerima stimulus dari lingkungannya, dia melakukan pemilihan sesuai dengan minat dan keperluannya, menginterpretasikannya, menghubungkannya dengan pengalamannya terdahulu, baru kemudian memilih alternatif respon yang paling sesuai.
Para ahli psikolinguistik pengikut mazhab kognitive, antara lain Noam Chomsky dan James Deez, berpandangan bahwa setiap manusia memiliki kesiapan alamiah untuk belajar bahasa. Manusia lahir dibekali oleh Sang Pencipta dengan piranti pemerolehan bahasa atau LAD (Language Acquisition Device). Alat ini menyerupai layar radar yang hanya menangkap gelombang-gelombang bahasa. Setelah diterima, gelombang-gelombang itu ditata dan dihubung-hubungkan satu sama lain menjadi sebuah system kemudian dikirimkan ke pusat pengolahan kemampuan berbahasa (Language Competence). Pusat ini merumuskan kaidah-kaidah bahasa dari data-data ujaran yang dikirimkan oleh LAD dan menghubungkannya dengan makna yang dikandungnya, sehingga terbentuklah kemampuan berbahasa. Pada tahap selanjutnya, pembelajar bahasa menggunakan kemampuan berbahasanya untuk mengkreasi atau menghasilkan kalimat-kalimat dalam bahasa yang dipelajarinya untuk mengungkapkan keinginan atau keperluannya sesuai dengan kaidah-kaidah yang telah diketahuinya.

B. Teori Ilmu Bahasa (Linguistik)
Perbedaan dalm cara atau mengajarkan bahasa dipengaruhi pula oleh perbedaan pandangan terhadap hakekat bahasa dan perbedaan dalam cara menganalisis dan mendeskripsikan bahasa. Pada bagian ini akan dikemukakan dua aliran paling penting saat ini dalam ilmu bahasa (linguistic), yaitu aliran strukturalisme dan aliran transformasi-generatif.

1. Aliran Strukturalisme
Aliran ini dipelopori oleh linguis dari Swiss, Ferdinand de Saussure (1857-1913) dan dikembangkan lebih lanjut oleh Leonard Bloomfield. Aliran strukturalisme ini memiliki pandangan tentang hakekat bahasa, antara lain:
a) Bahasa itu adalah ujaran (lisan)
b) Kemampuan bahasa diperoleh melalui kebiasaan yang ditunjang dengan latihan dan penguatan
c) Setiap bahasa memilki sistemnya sendiri yang berbeda dari bahasa lain. Oleh karena itu, menganalisis suatu bahasa tidak bisa memakai kerangka yang digunakan untuk menganalisis bahasa lainnya
d) Setiap bahasa memiliki system yang utuh dan cukup untuk mengekspresikan maksud dari penuturnya. Oleh karena itu, tidak ada suatu bahasa yang unggul atas bahasa lainnya.
e) Semua bahasa yang hidup berkembang mengikuti perubahan zaman terutama karena terjadinya kontak dengan bahasa lain. Oleh karena itu, kaidah-kaidahnya pun bisa mengalami perubahan.
f) Sumber pertama dan utama kebakuan bahasa adalah penutur bahasa tersebut, bukan lembaga ilmiah, pusat bahasa, atau mazhab-mazhab gramatika.
Berdasarkan teori-teori bahasa tersebut, ditetapkan beberapa prinsip mengenai pengajaran bahasa, antara lain:
a) Karena kemampuan berbahasa diperoleh melalui kebiasaan, maka latihan menghafalkan dan menirukan berulang-ulang harus diintensifkan. Guru harus mengambil peran utama dalam proses pembelajaran bahasa.
b) Karena bahasa lisan merupakan sumber utama bahasa, maka guru harus memulai pelajaran dengan menyimak kemudian berbicara, sedangkan membaca dan menulis dilatihkan kemudian.
c) Hasil analisis kontrastif (perbandingan antara bahasa ibu dan bahasa yang dipelajari) dijadikan dasar pemilihan materi pelajaran dan latihan-latihan.
d) Diberikan perhatian yang besar kepada wujud luar dari bahasa, yaitu pengucapan yang fasih, ejaan dan pelafalan yang akurat, struktur yang benar, dan sebagainya.
Teori-teori linguistic structural ini seiring dengan teori-teori psikologi behaviorisme dan menjadi landasan teoritis bagi metode audiolingual dalam pengajaran bahasa.

2. Aliran Generatif-Transformatif
Aliran Generatif-Transformatif ini dipelopori oleh seorang pakar linguistic Amerika yang bernama Noam Chomsky. Dia membagi kemampuan kemampuan berbahasa menjadi dua, yaitu kompetensi dan performansi. Kompetensi (competence) adalah kemampuan ideal yang dimiliki oleh seorang penutur bahasa. Kompetensi menggambarkan pengetahuan tentang system bahasa yang sempurna, yaitu pengetahuan tentang system kalimat (sintaks), system kata (morfologi), system bunyi (fonologi), dan system makna (semantic). Sedangkan performansi (performance) adalah ujaran-ujaran yang bisa didengar atau dibaca, yang merupakan tuturan seseorang apa adanya tanpa dibuat-buat. Oleh karena itu, performansi bisa saja tidak sempurna, dan oleh karena itu pula, menurut Chomsky, suatu tata bahasa hendaknya memerikan kompetensi dan bukan performansi.
Dalam beberapa hal, teori kebahasaan dalam aliran geberatif-transformatif ini memiliki kesamaan dengan aliran structural. Pertama, Pada dasarnya bahasa itu adalah ujaran (lisan). Kedua, bahasa memiliki system yang utuh dan cukup memadai untuk mengekspresikan maksud dari penuturnya, oleh karena itu, tidak ada suatu bahasa yang lebih unggul atas bahasa lainnya.
Namun demikian, terdapat beberapa perbedaan di antara keduanya, antara lain:
a) Menurut aliran structural, kemampuan berbahasa diperoleh melalui kebiasaan yang ditunjang dengan latihan dan penguatan. Sedangkan aliran transformatif-generatif menekankan bahwa kemampuan berbahasa adalah sebuah proses kreatif.
b) Aliran structural menekankan adanya perbedaan system antara satu bahasa dengan bahasa lainnya, sementara aliran transformatif-generatif menegaskan adanya banyak unsur kesamaan di antara bahasa-bahasa, terutama pada tataran struktur dalamnya.
c) Aliran structural berpandangan bahwa semua bahasa yang hidup berkembang mengikuti perubahan zaman, terutama karena terjadinya kontak dengan bahasa lain, oleh karena itu, kaidah-kaidah bahasa pun bisa mengalami perubahan. Sedangkan aliran transformatif-generatif menyatakan bahwa perubahan itu hanya menyangkut struktur luar, sedangkan struktur dalamnya tidak berubah sepanjang masa dan tetap menjadi dasar bagi setiap perkembangan yang terjadi.
Berdasarkan teori-teori kebahasaan tersebut, dirumuskan prinsip-prinsip mengenai pengajaran bahasa, antara lain:
a) Karena kemampuan berbahasa adalah sebuah proses kreatif, maka pembelajar harus diberi kesempatan yang luas untuk mengkreasi ujaran-ujaran dalam situasi komunkatif yang sebenarnya, bukan sekedar menirukan dan menghafalkan.
b) Pemilihan materi pelajaran tidak ditekankan pada hasil analisis kontrastif, melainkan pada kebutuhan komunikasi dan penguasaan fungsi-fungsi bahasa.
c) Kaidah nahwu dapat diberikan sepanjang hal itu diperlukan oleh pembelajar sebagai landasan untuk dapat mengkreasi ujaran-ujaran sesuai dengan kebutuhan komunikasi.
A. Perkembangan Pengajaran Bahasa Arab di Dunia Islam

Berbicara tentang bahasa Arab dalam konteks sejarah tidak bisa lepas dari perjalanan penyebaran agama Islam. Begitu pula sebaliknya, mengkaji tentang Islam berarti pula mempelajari bahasa Arab sebagai syarat wajib untuk menguasai isi kandungan al-Qur'an dan al-Hadis sebagai sumber utama agama Islam.

Sejarah mencatat bahwa bahasa Arab mulai menyebar ke luar jazirah Arabia sejak abad ke-1 H atau abad ke-7 M, kemanapun mengikuti gerak penyebaran Islam. Penyebaran itu meliputi wilayah Byzantium di utara, Persia di timur, dan Afrika sampai ndalusia di barat. Hingga pada masa khilafah Islamiyah, bahasa Arab menjadi bahasa resmi yang dipergunakan untuk sosialisasi agama, budaya, administrasi, dan ilmu pengetahuan. Posisi strategis yang dimiliki bahasa Arab ini mengungguli semua bahasa yang pernah ada sebelumnya, seperti bahasa Yunani, Persia, Koptik, dan Syria.

Melalui analisis sejarah, dapat diketahui bahwa adanya interaksi yang intens antara bangsa Arab dan Eropa dalam pewarisan ilmu pengetahuan Yunani Kuno melalui penerjemahan dari bahasa Yunani ke dalam bahasa Arab, kemudian dari bahasa Arab ke bahasa Latin, sehingga dalam megkaji teks-teks sastra dan keagamaan memungkinkan terjadinya kesamaan tujuan belajar-mengajar antara kedua bahasa tersebut. Dengan demikian, dapat diduga adanya kesamaan cara belajar-mengajar bahasa Arab dengan bahasa Latin yang berlaku saat itu, yaitu grammar-translation method (thariqah al-qawa'id wa al-tarjamah), metode pengajaran bahasa asing yang dianggap paling tua sehingga tidak diketahui sejarah muncul dan perkembangannya. Metode ini diprediksi muncul semenjak orang merasa perlu untuk mempelajari bahasa asing. Metode ini sudaj tampak dipakai sejak kebangkitan Eropa pada abad ke-15, walaupun penamaannya dengan grammar-translation method baru dikenal pada abad ke-19. Oleh karena itu, ia muncul tanpa landasan teoritis , baik secara linguistik, psikologis, maupun edukatif.

Namun demikian, ketika masa kejayaan Islam semakin meredup pada akhir abad ke-18, sementara Eropa mengalami renaisans (kebangkitan kembali atau pencerahan), mata angin pembelajaran bahasa Arab pun mulai berganti arah. Kemajuan yang terjadi di Eropa menggiring dunia Arab dan Islam untuk berbalik mencari tetesan ilmu pengetahuan yang pada awalnya berasal dari kemajuan peradaban mereka sendiri. Di sinilah teori dialektika Hegel terjadi. Peradaban Barat maju karena kemajuan peradaban Islam masa lalu, masa kebangkitan Islam dan Arab kemudian dipengaruhi oleh kemajuan peradaban Barat. Melalui invansi Napoleon Bonaparte ke Mesir pada tahun 1798 M, dunia Arab dan Islam mulai terbuka kembali untuk melihat dan meneladani berbagai kemajuan yang terjadi di Eropa.

Sejak Saat itu pula, Mesir banyak menimba ilmu serta mengadakan hubungan diplomatik kebudayaan dengan Eropa, khususnya Perancis. Dalam pengajaran bahasa, metode-metode yang berkembang di Eropa pun diadopsi dan digunakan secara luas di Mesir, mulai dari metode gramatika-tarjamah sampai dengan metode langsung (direct method/al-thariqah al-mubasyirah). Pengajaran bahasa Arab semakn berkembang dan mendapatkan momentumnya manakala terjadi invansi para missionaris Kristen dari Amerika menyerbu negeri Arab bagian utara (Syam). Karena dalam penyebaran misi awalnya, mereka menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa resmi, maka berkembang pulalah metodologi pengajaran bahasa Arab. Sehingga lahirlah beberapa buku yang berkaitan dengan ilmu bahasa Arab termasuk kamus-kamus berbahasa Arab. Al-Munjid adalah salah satu bukti sejarah di mana seorang Nasrani seperti Louis Ma'luf terlibat secara langsung dalam pengembangan bahasa Arab.

Dari latar belakang sejarah tersebut, dapat dikatakan bahwa perkembangan metodologi pengajaran bahasa-bahasa Latin di Eropa, dan bahasa Inggris di Eropa dan Amerika banyak berjasa dalam memajukan perkembangan metodologi pengajaran bahasa Arab.

B. Perkembangan Pengajaran Bahasa Arab di Indonesia

1. Bahasa Arab Sebagai Bahasa Agama Verbal

Sebagai simbol ekspresi linguistik ajaran Islam, pengajaran bahasa Arab yang pertama di Indonesia adalah untuk memenuhi kebutuhan seorang muslim dalam menunaikan ibadah ritual, khususnya ibadah shalat. Sesuai dengan kebutuhan tersebut, materi yang diajarkan hanya terbatas pada doa-doa shalat dan surat-surat pendek al-Qur'an yang lazim dikenal dengan juz 'amma. Metode yang lazim digunakan ialah metode abjadiyah (alphabetical method) yang terkenal dengan nama metode baghdadiyah. Metode ini menekankan pada kemampuan membaca huruf-huruf al-Qur'an (al-huruf al-hija'iyah) yang dimulai dari: (a) penyebutan huruf dengan namanya satu persatu dari alif samapai ya' secara abjad sampai murid hafal nama-nama huruf tersebut secara terpisah atau satu persatu, kemudian (b) diajarkan kata-kata yang terdiri dari dua huruf , lalu tiga huruf, dan begitu seterusnya yang diberikan secara bertahap, kemudian meningkat pada (c) pengajaran harakat, dimulai dengan menyebutkan huruf yang disertai dengan nama harakatnya.

2. Bahasa Arab Sebagai Media Memahami Agama

Seiring dengan berkembangnya waktu, metode dan pola pengajaran yang pertama di atas mulai mengalami pergeseran dan perkembangan ke arah yang lebih bermakna. Pengajaran bahasa Arab verbalistik sebagai mana di atas tidak cukup, karena al-Qur'an tidak hanya untuk dibaca sebagai sarana ibadah, melainkan juga sebagai pedoman hidup yang harus dipahami maknanya dan diamalkan ajaran-ajarannya. Oleh karena itu, muncullah pengajaran bahasa Arab dalam bentuk kedua dengan tujuan mendalami ajaran agama Islam.

Pengajaran bahasa Arab bentuk kedua ini tumbuh dan berkembang di berbagai pondok pesantren salaf. Materi yang diajarkan mencakup fikih, aqidah, akhlaq, hadits, tafsir, dan ilmu-ilmu bahasa rab seperti nahwu, sharaf, dan balaghah dengan buku teks berbahasa Arab yang ditulis oleh para ulama dari berbagai abad di masa lalu. Metode yang digunakan adalah metode gramatika-tarjamah (thariqah al-qawa'id wa al-tarjamah/grammar-translation method) dengan teknik penyajian yang masih relatif tradisional, di mana guru (Kiai) dan para murid (santri) masing-masing memegang buku (kitab). Guru membaca dan mengartikan kata demi kata atau kalimat demi kalimat ke dalam bahasa daerah khas pesantren yang telah didekatkan kepada sensivitas bahasa Arab. Sedangkan tata bahasa (qawa'id) bahasa Arab diselipkan ke dalam kata-kata tertentu sebagai simbol yang menunjukkan fungsi suatu kata dalam kalimat. Santri hanya mencatat arti setiap kata atau kalimat Arab yang diucapkan artinya oleh guru, tanpa adanya interaksi verbal yang aktif dan produktif antara kiai dan santrinya.

3. Bahasa Arab Sebagai Media Komunikasi

Meski pola pengajaran bahasa Arab dalam bentuk kedua di atas sangat dominan berlaku di berbagai pondok pesantren salaf hingga kini, dan diakui kontribusinya dalam memberikan pemahaman umat Islam Indonesia terhadap ajaran agamanya, namun tuntutan dunia komunikasi pada gilirannya menggiring perubahan baru pola pengajaran bahasa Arab. Interaksi antar bangsa menuntut umat Islam untuk tidak sekedar memiliki kemampuan berbahasa Arab reseptif (pasif), tetapi kemampuan berbahasa yang lebih aktif dan produktif. Semangat pembaruan ini diperkuat dengan munculnya para cendikiawan dan intelektual muda muslim dengan nuansa pemikiran yang segar, sekembali mereka dari menuntut ilmu di negeri pusat-pusat pendidikan di Timur Tengah, terutama Mesir.

Pada masa inilah metode langsung (direct method / al-thariqah al-mubasyirah) mulai diterapkan dalam pengajaran bahasa Arab di Indonesia. Pengajaran bahasa Arab bentuk ketiga ini terdapat di berbagai pondok pesantren atau lembaga pendidikan Islam modern sejak awal abad ke-19. Dimulai di Padang Panjang oleh ustadz Abdullah Ahmad, Madrasah Adabiyah (1909), dua bersaudara Zaenuddin Labay al-Yunusi dan Rahmah Labay el-Yunusiyah, Diniyah Putra (1915) dan Diniyah Putri (1923), dan ustadz Mahmud Yunus, Normal School (1931). Kemudian ditumbuh-kembangkan oleh K.H. Imam Zarkasyi di Kulliyatul Mu'allimin al-Islamiyah Gontor Ponorogo.

Dalam sistem pengajaran bentuk ketiga ini, pelajaran agama pada tahun pertama diberikan sebagai dasar saja dengan menggunakan bahasa Indonesia. Sementara itu, sebagaian besar perhatian siswa dicurahkan kepada pelajaran bahasa Arab dengan metode langsung. Pada tahun kedua, ilmu tata bahasa Arab (nahwu-sharaf) mulai diberikan dalam bahasa Arab dengan metode induktif (al-thariqah al-istiqra'iyah), ditambah dengan latihan intensif qira'ah (reading), insya' (writing), dan muhadatsah (speaking/conversation). Pelajaran agama juga disajikan dalam bahasa Arab. Dalam masa belajar enam tahun (pasca sekolah dasar), seorang lulusan perguruan Islam modern ini (setara dengan lulusan SLTA/SMA) telah mampu berkomunikasi dengan bahasa Arab secara lisan dan tulis, serta mampu membaca buku berbahasa Arab dalam berbagai subyek pengetahuan.

Dalam perkembangannya, pengajaran bahasa Arab di perguruan Islam modern ini tidak hanya menggunakan metode langsung tapi mengikuti pembaruan-pembaruan yang terjadi di dunia pengajaran bahasa, misalnya metode aural-oral (al-thariqah al-sam'iyah al-syafawiyah) dan pendekatan komunikatif (al-thariqah al-itthishaliyah).

4. Bentuk Integrasi

Selanjutnya, dari obsesi para pemerhati pengajaran bahasa Arab yang ingin mengintegrasikan antara bentuk pengajaran bahasa Arab yang kedua dan ketiga, maka muncullah bentuk pengajaran bahasa Arab keempat yaitu bentuk integrasi. Pada fase ini tujuan pengajaran bahasa Arab memiliki dua arah, yaitu pengajaran bahasa Arab untuk penguasaan kemahiran berbahasa dan pengajaran bahasa Arab untuk penguasaan pengetahuan lain dengan menggunakan wahana bahasa Arab. Selain itu, jenis bahasa yang dipelajari mencakup dua bahasa, yaitu bahasa Arab klasik dan modern. Penggabungan ini di satu sisi memiliki kelebihan karena dapat memberdayakan kompetensi peserta didik secara komprehensif, namun di sisi lain melahirkan ketidakmenentuan, karena keterbatasan sel-sel otak peserta didik untuk mengakomodasi keduanya secara bersamaan.

Ketidakmenetuan ini bisa dilihat dari berbagai segi. Pertama dari segi tujuan, terdapat kerancuan antara mempelajari bahasa Arab untuk menguasai kemahiran berbahasa atau sebagai alat untuk menguasai pengetahuan lain yang menggunakan wahana bahasa Arab. Kedua dari segi jenis bahasa yang dipelajari, terdapat ketidakmenentuan apakah bahasa Arab klasik, bahasa Arab modern, atau bahasa Arab sehari-hari. Ketiga dari segi metode, terdapat kegamangan antara mempertahankan metode yang lama atau menggunakan metode yang baru.
Meskipun demikian, pengajaran bahasa Arab bentuk keempat ini telah banyak dipergunakan hingga kini di berbagai lembaga pendidikan formal (madrasah dan sekolah umum) di Indonesia. Kebijakan ini diambil karena bentuk integrasi ini dipandang lebih aspiratif dengan perkembangan abad globalisasi, dengan terus mengupayakan berbagai cara untuk memperbaiki kekurangan-kekurangan yang terdapat di dalamnya. Begitu pula dengan kegamangan yang ada, setidaknya dapat memacu para pemerhati pengajaran bahasa Arab untuk menghadirkan tawaran positif bagi pengembangan metodologi pengajaran bahasa Arab.

Akhirnya, bentuk-bentuk pengajaran bahasa Arab yang telah diuraikan di atas masih tetap eksis dan dipergunakan hingga saat ini, tentu dengan modifikasi, inovasi dan perkembangan masing-masing. Jika pengajaran bahasa Arab bentuk pertama dahulu berada di surau dan masjid, kini berkembang menjadi TPQ/TPA (Taman Pendidikan Al-Qur'an) yang menjamur bukan hanya di pedesaan tapi juga marak di perkotaan. Metode yang digunakan semakin berkembang menjadi lebih praktis dan bervariasi, tidak hanya metode eja/abjad, tapi juga menggunakan metode iqra', al-barqi, hattawiyah, al-nur dan sejenisnya. Perkembangan ini sejalan dengan meningkatnya kesadaran beragama masyarakat dan kesdaran akan perlunya menanamkan nilai-nilai keagamaan kepada anak-anak sejak usia dini.

Sementara itu, pengajaran bahasa Arab bentuk kedua masih tetap dipertahankan di pondok-pondok pesantren salaf. Sedangkan pengajaran bahasa Arab bentuk ketiga yang menekankan bahasa Arab sebagai alat komunikasi banyak dipergunakan di pondok pesantren modern, dan berbagai lembaga pendidikan Islam modern. Adapun pengajaran bahasa Arab bentuk keempat juga masih tetap dipergunakan hingga kini di lemabaga pendidikan formal (madrasah dan sekolah umum) dan terus diupayakan penyempurnaannya, baik dari segi kurikulum, orientasi pengajarannya, materi yang diajarkan, metode dan strategi pengajarannya, serta media yang digunakan.
17
Des
fajri
Pengetahuan tentang karakteristik bahasa Arab merupakan tuntutan yang selayaknya dipahami oleh para pengajar bahasa Arab, karena pengetahuan tersebut akan memudahkan mereka dalam melaksanakan kegiatan pengajaran bahasa Arab. Namun harus dicernati bahwa karakteristik bahasa Arab ini tidak identik dengan kesulitannya. Dengan memiliki pengetahuan yang baik tentang karakteristik bahasa Arab setidaknya para pengajar bahasa Arab akan mengetahui keunikan yang dimiliki bahasa Arab dan mencari strategi yang sesuai untuk memudahkan anak didiknya dalam mempelajari bahasa Arab.
Bahasa Arab memiliki karakteristik yang unik dan universal. Unik artinya bahasa Arab memiliki ciri khas yang membedakannya dengan bahasa lainnya, sedangkan universal berarti pula adanya kesamaan nilai antara bahasa Arab dengan bahasa lainnya. Di antara karakteristik universal bahasa Arab tesebut antara lain:

1. Bahasa arab memiliki gaya bahasa yang beragam. Keragaman gaya bahasa tersebut meliputi (a) ragam sosial, ragam bahasa yang menunjukkan stratifikasi sosial ekonomi penuturnya. Sebagai misal, bahasa yang digunakan oleh penutur yang terpelajar berbeda dengan bahasa yang digunakan oleh penutur yang kurang berpendidikan, ragam bahasa standar (fusha) berbeda dengan ragam bahasa 'amiyah. (b) ragam geografis, ragam bahasa yang menunjukkan letak geografis penutur antara satu daerah dengan daerah yang lain, sehingga melahirkan dialek yang beragam pula, seperti dialek Saudi berbeda dengan dialek Mesir, Syria, Maroko, dll. (c) ragam idiolek, ragam bahasa yang menunjukkan integritas kepribadian setiap individu masyarakat.
2. Bahasa Arab dapat diekspresikan secara lisan maupun tertulis.
3. Bahasa Arab memiliki system, aturan dan perangkat yang khas. Artinya bahasa Arab memiliki system bunyi, system kata, system kalimat, dan system makna, dengan aturan-aturan yang khas.
4. Bahasa Arab memiliki sifat yang arbitrer dan simbolik. Arbitrer berarti mana suka, artinya tidak terdapat hubungan yang rasional antara lambang verbal dengan acuannya. Sebagai misal, benda cair yang bening yang biasa diminum dalam bahasa Arab disebut ma', dalam bahasa Indonesia disebut air, dan dalam bahasa Inggris disebut water. Kata-kata dalam setiap bahasa merupakan lambang-lambang benda nyata, abstrak, gagasan, dan sebagainya. Dengan sifat simbolis yang dimiliki bahasa, manusia dapat mengabstaksikan berbagai pengalaman dan pikirannya tentang berbagai hal termasuk hal-hal yang belum pernah dialaminya sekalipun.
5. Bahasa Arab senantiasa berkembang, produktif, dan kreatif. Suatu bahasa itu sangat terbuka untuk berkembang. Dari satu kata akan berkembang menjadi kalimat, dari satu kalimat dapat dihasilkan jumlah kalimat yang tidak terbatas. Dari satuan bunyi yang sangat kecil dapat dihasilkan ribuan jumlah kata. Selain itu, perkembangan bahasa selalu mengikuti perkembangan peradaban manusia. Sebagai contoh, dalam bahasa Arab terdapat sejumlah kata yang merupakan serapan dari bahasa lainnya seiring dengan perkembangan era informasi dan teknologi. Seperti: tilivaz, tilfun, radiyu, al-hasub al-'aliy, al-barid al-elektroniy, dll.
6. Bahasa Arab merupakan fenomena individu dan fenomena sosial manusia. Sebagai fenomena individu, ia merupakan ciri khas kemanusiaan. Dengan kemampuan berbahasa yang dimilikinya, manusia dapat berkembang melebihi makhluk-makhluk lainnya. Sedangkan sebagai fenomena sosial, bahasa merupakaqn suatu konvensi (kesepakatan) suatu masyarakat pemilik atau pengguna bahasa itu. Kesepakatan yang dimaksud pada dasarnya merupakan kebiasaan yang berlangsung turun temurun dari nenek moyangnya.

Di samping memiliki karakteristik universal, bahasa Arab juga memiliki karakteristis yang unik, antara lain:
1. Bahasa Arab memiliki bunyi yang konsisten dengan hurufnya. Bahasa Arab memiliki huruf yang tetap jumlahnya, yaitu 29 huruf, dan setiap satu huruf memilki satu system bunyi. Berbeda dengan bahasa Inggris yang memilki 26 huruf yang dapat menghadirkan 40 system bunyi.
2. Bahasa Arab memiliki struktur kata yang dapat berubah dan berproduksi. Satu bentuk kata dasar dalam bahasa Arab dapat memproduksi berbagai bentuk kata dengan makna yang berbeda. Di sinilah faktor kemudahan bahasa Arab. Dengan penguasaan kaidah tashrif dan isytiqaq yang sebagian besar bersifat qiyasi (analogis), 45% kata-kata dalam bahasa Arab dapat dilacak. Seperti kada dasar (قرأ) yang artinya membaca, dapat ditambah awalan, sisipan, dan akhiran yang menghasilkan berbagai variasi maknanya. Contoh (قراءة) yang berarti bacaan, (قارئ) berarti pembaca/orang yang membaca, (مقروء) berarti yang dibaca, dan sebagainya.
3. Adanya i'rab dalam struktur kalimat bahasa Arab. I'rab ini erat sekali hubungannya dengan makna. Perubahan harakat akhir suatu kata sangat ditentukan oleh kedudukan atau jabatan kata dalam struktur kalimat atau karena didahului oleh salah satu huruf atau kata tugas (nawashib, jawazim, dan nawasikh). Perubahan i'rab itu sangat besar pengaruhnya terhadap makna kalimat secara keseluruhan. Misalnya: ضرب أحمدُ عمرَ (Ahmad memukul Umar). Perhatikan, kata Ahmad berharakat akhir dhammah dan kata Umar berharakat akhir fathah. Bila harakat akhir kedua kata itu dirubah: ضرب أحمدَ عمرُ , kata Ahmad berubah menjadi berharakat akhir fathah dan Umar menjadi berharakat akhir dhammah, maka makna kalimat itu juga berubah menjadi (Ahmad dipukul Umar atau Umar memukul Ahmad).
4. Tulisan bahasa Arab bergerak maju dari kanan ke kiri, demikian pula membacanya. Karakteristik inilah yang membedakan bahasa Arab dari segala bahasa di dunia.
5. Bahasa Arab komitmen dengan bilangan dan gender. Ada istilah mufrad yang berarti kata benda tunggal, mutsanna berarti kata benda dual, dan jama' berarti kata benda plural. Ada istilah mudzakkar artinya kata benda maskulin dan muannats artinya kata benda feminin.

Dari paparan di atas dapat dipahami bahwa ciri-ciri khas bahasa Arab tersebut tidaklah identik dengan kesulitannya, karena banyak di antara ciri khas itu yang merupakan faktor kelebihan dan kemudahan bahasa Arab. Tinggal bagaimana kita melihat, mencermati, dan mendalami substansi bahasa Arab. Wallahu a'lam bisshawab.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar